28.6 C
New York
Selasa, Juli 16, 2024

Buy now

spot_img

Dihadapan Mendagri Gubernur Andi Sudirman: Tiga Komoditi Memberi Andil Terbesar Dalam Inflasi di Sulsel

Makassar — (CompleteNews.Id).

Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, dihadapan Menteri Dalam Negeri Muh. Tito Karnavian, melaporkan beberapa capaian Sektor Ekonomi dan Kesehatan di Sulsel.

Hal itu Gubernur sampaikan saat mengikuti pengarahan Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian terkait penanganan pemulihan ekonomi dan inflasi di Kantor Gubernur Sulsel. Jumat (27/1/23).

Gubernur Sulsel dalam pemaparannya menyampaikan. Berdasarkan data terakhir bulan Desember 2022, Sulsel berada di posisi 5,77 persen (Year on Year). Ada tiga komoditi yang memberi andil terbesar dalam inflasi di Sulsel, Bensin, Angkutan Udara dan Telur ayam ras.

“Untuk penanganan inflasi. Pemprov Sulsel telah menyalurkan bantuan sosial termasuk untuk Ojek, UMKM dan Nelayan, Penciptaan lapangan kerja, hingga Subsidi sektor transportasi umum,” ungkapnya.

Gubernur Andi Sudirman juga memaparkan beberapa capaian sektor ekonomi dan kesehatan di Sulsel. Mulai dari ekspor Sulsel yang naik 40,63 persen atau tembus Rp34,44 triliun. Bantuan program Mandiri Benih yang sukses meningkatkan produksi padi menjadi 5,34 juta ton atau naik 4,92 persen.

“Hal ini membuat Sulsel menjadi daerah dengan surplus besar tertinggi di Indonesia,” pungkas Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman.

Mendagri Tito Karnavian dalam kesempatan itu menekankan. Beberapa hal yang harus dilakukan, dalam penanganan inflasi di Sulawesi Selatan,
yang sudah terjadi di beberapa Negara.

“Jika inflasi itu dibawah 10 persen artinya masih termasuk ringan, berarti kenaikan barang dan jasa belum terasa. Sendi-sendi ekonomi masih kuat, tapi jika sudah di angka 11 persen hingga 30 persen berarti, sudah masuk sedang dan kenaikan harga mulai terjadi goncangan,” ungkapnya.

Lanjut Mendagri. Ketika angka inflasi 31-100 persen artinya sudah masuk di angka berat, sehingga masyarakat akan merasakan betul dampak kenaikan harga, dan sendi-sendi ekonomi akan terguncang. Dan ketika inflasi telah masuk diangka 100 persen, itu artinya hiperinflasi, seperti yang pernah terjadi di Srilanka.

“Mengapa kita perlu atensi kepada Inflasi? Karena ini masalah harga barang dan jasa. Isu yang paling utama bagi masyarakat adalah ketersediaan dan keterjangkauan harga barang dan jasa. Terutama barang pokok. Karena ini bisa menjadi gangguan politik sosial keamanan,” ucap Mendagri.

Solusi yang harus dilakukan setiap daerah, termasuk di Sulsel dalam menjaga agar angka inflasi ini tidak naik dan memengaruhi perekonomian.

“Kita harus menjaga supply dan tahu persis barang apa yang naik dan bagaimana cara membuat harganya itu turun dan dijangkau masyarakat, yah supply-nya harus cukup,” tegas Mendagri.

Selain ketersedian barang dan jasa, Tito juga menyebut bahwa pemerintah daerah harus pandai-pandai melihat ketersediaan BBM, tarif angkutan umum, tarif air minum maupun makanan.

“Monitoring harga-harga terutama sembako, Sulsel ini adalah daerah yang full stok sumber pangan, produsen beras nomor satu. Jadi saya berharap jangan sampai terjadi di Sulsel peristiwa kenaikan harga beras yang signifikan, karena itu akan menyusahkan rakyatnya,” tandas Menteri Dalam Negeri Prof Muh. Tito Karnavian. (*/is).

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles